Di tenda besar berwarna putih itu, di tengah-tengah Perang Salib yang menghabiskan banyak korban, waktu, dan biaya itu, terdengar dialog bernas antara Saladin dan tangan kanannya.
“Kita harus serang mereka sekarang,” usul sang tangan kanan Saladin.
“Tidak, kita buat perencanaan yang matang dulu,” sanggah Saladin.
“Kita akan menang, kerana ini sudah kehendak Allah,” teriak
“Kita akan menang kerana perencanaan yang matang,” ujar Saladin, sang pemimpin tertinggi pasukan Muslim.”…dan tentu saja kerana kehendak Allah,” segera sang pemimpin itu menambahkan.
Diskusi itu ditutup dengan kalimat Saladin: ”Di setiap pertempuran, aku selalu menang, tentu saja dengan kehendak Allah, kerana matangnya perencanaan perang,” tegasnya.Sholahuddin Yusuf ibn Ayyub memang dikenal dengan toleransi yang tinggi dan penuh dengan rasa peri-kemanusiaan. Dalam setiap pertempuran, pesannya selalu sama: “minimalkan pertumpahan darah, jangan melukai wanita dan anak-anak”. Dia disegani lawan-lawannya, sehingga dalam Perang Salib III, ada istilah ‘Saladin Tithe’ (“Zakat” melawan Saladin). Tapi namanya harum di medan perang yang panjang itu, dan diakui kawan dan lawan. Bersama dengan Raja Baldwin IV, dia menginginkan sebuah kota Yerusalam yang damai bagi ketiga agama besar, sebuah Kingdom of Conscience , Kingdom of Heaven (kerajaan nurani, kerajaan syurga).Budi baiknya dikenal tidak di kalangan muslim, tetapi juga lawan-lawannya. Tawanan diperlakukan secara terhormat dan manusiawi, tidak membuat mereka haus dan lapar. Pernah, saat berperang, Sholahuddin menangkap pasukan Salib yang berjumlah sangat besar sedangkan makanan yang tersedia tidak cukup buat mereka. Dengan lapang dada, akhirnya Sholahuddin membebaskan mereka tanpa syarat.Berbeza dengan sultan kebanyakan, dia tidak membuat istana megah untuk dirinya. Tetapi, justeru masjid, hospital, dan universiti yang dibangunnya untuk publik, di Kaherah, Mesir.
Setahun setelah Perjanjian Ramla, setelah pulangnya Richard ke Inggeris, tepatnya 4 Mac 1193, Sholahuddin meninggal di Damsyik tidak lama setelah jatuh sakit. Ketika rakyat membuka peti hartanya ternyata hartanya tak cukup untuk biaya pemakamannya, Utusan yang menyampaikan berita kematiannnya itu ke Baghdad membawa serta baju perangnya, kudanya, wang sebanyak satu dinar dan 36 dirham miliknya. Rupanya hartanya lebih banyak mengalir kepada golongan fakir miskin.
Saladin, begitu lidah Barat menyebutnya, sudah wafat. Tapi perilaku dan kecerdasan nuraninya akan terus dikenang, bahkan oleh Barat. Kisah perang dan kepemimpinannya banyak ditulis dalam karya puisi dan sastera Eropah, salah satunya adalah The Talisman (1825) karya Walter Scott. “Di Eropah” tulis Philip K Hitti, dia telah menyentuh alam khayalan para penyanyi mahupun para penulis novel zaman sekarang, dan masih tetap dinilai sebagai suri teladan kaum kesatria,”.Kini makamnya menjadi salah satu destinasi kunjungan popular di Syria.
Ayyuhal ikhwah Rochimmakulullah..,betapa malunya kita jumat islam jika tidak mengenal siapa itu Shalhuddin Al Ayyubi. Maka dari itu wahai sahabat dalami terus ilmu islam. karena ilmu islam itu tidak akan pernah habis apabila kita mempelajarinya terus menerus. Berikut adalah cuplikan animasi tentang kberanian seorang Sholahuddin Al Ayubi.tempat kita menujukan segala puji dan syukur kepada-Nya,
yang telah melimpahkan bimbingan dan ketenangan hati
serta meredakan segala apa yang telah menganiaya
dan menghancurkan jiwa dan raga hamba-Nya.
Dimana saat ini kehormatan kita sebagai Ummat Islam?
Dimana letak kebanggaan kita sebagai Ummat Muslim?
Dimana gelora semangat kita sebagai orang-orang yang beriman?
(Sholahuddin Al Ayyubi)

Assalamu'alaikum..,syukran mas...!!dr dlu saya pngin mbaca artikel ttg pjuang islam yg satu ini tapi hnya di blog ini yang artikelnya ringkas enak di baca tp komplit..!!!
BalasHapusAllahu..akbar..Allahu..Akbar..Allahu akbar..!!